Erdogan Siap Hadapi Ujian Terberat Demi Memenangkan Referendum - Trias Politika
  • Breaking News

    Erdogan Siap Hadapi Ujian Terberat Demi Memenangkan Referendum

    Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan



    INDOPOST, ISTANBUL - Berbagai laporan dari Turki menyebutkan bahwa pemerintah Ankara khususnya Recep Tayyip Erdogan pribadi siap melakukan apa saja demi memenangkan referendum yang bakal digelar 16 April mendatang.

    Berbagai media mengungkapkan, gubernur Diyarbakır mencantumkan nama pengungsi Suriah di list pemilih. Sepertinya keputusan pemerintah Erdogan ini karena mereka ancaman dari suara menolak dan negatif rakyat Turki di referendum amandemen undang-undang dasar pada 16 April.

    Mayoritas jajak pendapat terbaru di Turki menunjukkan bahwa penentangan terhadap perubahan sistem parlementer menjadi sistem presidensial (presidensiil) serta penambahan wewenang presiden semakin besar. Oleh karena itu, kubu berkuasa, Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) akan menggunakan beragam cara dan muslihat termasuk mencatumkan nama pengungsi Suriah sebagai pemilih demi meraih kemenangan di referendum 16 April.

    Sementara itu, kubu oposisi Turki meyakini bahwa Erdogan sampai pada kesimpulan bahwa referendum mendatang bukan saja sebuah ujian berat bagi dirinya di pentas politik pasca transformasi terbaru Ankara, namun juga dapat mempengaruhi masa depan politiknya. Oleh karena itu, referendum amandeman konstitusi akan menjadi ujian terberat bagi Erdogan.

    Erdogan menyusul kudeta gagal pada Juli lalu telah melakukan sebagian keinginannya. Penangkapan ratusan ribu oposan termasuk simpatisan Kurdi Truki di parlemen dan anggota kelompok Fethullah Gülen serta pendukungnya  dan vonis kurungan bagi kelompok ini serta pencopotan staf pemerintah dan para tersangka termasuk tujuan yang dicanangkan di kebijakan pemerintah Erdogan pasca kudeta gagal 15 Juli 2016. Jika amandemen undang-undang dasar Turki diratifikasi maka potensi eskalasi penangkapan kubu oposisi tak jauh dari prediksi.

    Penangkapan kubu oposisi di dalam negeri dengan berbagai dalih dan intervensi di urusan internal Suriah serta Irak atas instruksi sejumlah pemerintah reaksioner Arab Teluk Persia termasuk kebijakan keliru Erdogan yang menuai reaksi negatif dari berbagai kubu oposisi.

    Langkah tersebut baik di kebijakan dalam dan luar negeri Erdogan mendapat penentangan dari kubu-kubu Turki. Menurut kubu oposisi, draf baru undang-undang dasar Turki tidak digulirkan untuk menyelesaikan kendala saat ini yang dihadapi Ankara. Selain itu, reformasi ini juga tidak dapat dimanfaatkan untuk membawa Turki ke arah kemajuan dan memajukan masyarakat. Oleh karena itu, kecil kemungkinan rakyat Turki akan mendukung perubahan sistem parlementar menjadi sistem presidensial seperti yang diharapkan oleh Erdogan.


    (mf/indo)