Lukas Enembe Minta Pusat Pulangkan 7 Anak Timika Korban Eksploitasi - Trias Politika
  • Breaking News

    Lukas Enembe Minta Pusat Pulangkan 7 Anak Timika Korban Eksploitasi

    Gubernur Papua, Lukas Enembe



    INDOPOST, JAYAPURA - Gubernur Papua, Lukas Enembe, meminta Pemerintah Pusat segera memulangkan tujuh anak asal Timika, Papua yang menjadi korban penipuan serta kekerasan dengan iming-iming sekolah seminari atau sekolah Katolik di Jakarta oleh suster gadungan berinisial SK (35).

    Kepada wartawan Gubernur Papua Lukas Enembe, mengaku dirinya belum mendapat laporan terkait eksploitasi tujuh anak Papua tersebut. Meski demikian, diakui Gubernur Pemerintah Papua akan mengambil langkah tegas dengan meminta tujuh anak itu dikembalikan kepada orang tua masing-masing di Kota Timika.

    “Oh begitu ya, saya baru dengar kasus ini. Mungkin Dinas Sosial sudah mendapat laporannya, tetapi pada intinya saya minta agar anak-anak Papua tidak boleh terpengaruh dengan siapa pun, meski dengan iming-iming akan disekolahkan,” ungkap Gubernur, Rabu (22/2/2017).

    Terkait kasus eksploitasi tujuh anak Papua itu, Enembe menghimbau para orang tua untuk berhati-hati dan tidak boleh memberikan anak kepada pengasuh, atau orang yang tidak dikenal, sehingga kasus serupa tidak terulang kembali.

    “Orang tua saya himbau untuk lebih berhati-hati, dan jangan melepas anak sembarang, mereka harus dikawal. Untuk apa disekolahkan jauh-jauh ke luar Papua, disini juga kan mereka bisa disekolahkan. Sekali lagi jangan titip anak-anak sembarang kepada siapa pun dan saya minta anak-anak kita yang di bawa ke Jakarta dikembalikan kepada orang tua mereka,” tegas Enembe.

    Sebelumnya, tujuh anak asal Timika ditemukan di penampungan illegal di Jalan Intisari Raya, Pasar Rebo, Jakarta Timur. Mereka digiring ke Jakarta oleh SK sang suster gadungan, dengan iming-iming akan ke seminari atau ke sekolah Katolik di Jakarta.

    Selama di Jakarta tujuh anak ini justru dipekerjakan sebagai pengemis dan pembantu, mereka bahkan kerap mendapat kekerasan fisik, dan di hukum tidak boleh keluar rumah. Akibatnya, karena mengalami kekurangan makan, istrirahat tidak cukup, mandi kurang dan lain sebagainya, kulit anak-anak ini menjadi luka-luka. Kasus tujuh anak papua yang dieksploitasi ini kini ditangani Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) sementara SK kini ditahan di Polres Jakarta Timur.


    (Lina/indo)