Alumni Syuradikara Tawarkan Solusi Leadership untuk Bangun NTT - Trias Politika
  • Breaking News

    Alumni Syuradikara Tawarkan Solusi Leadership untuk Bangun NTT

    Ketua Ikatan Alumni Syuradikara Nusantara



    INDOPOST, SENTUL - Ikatan Alumni Syuradikara Nusantara (IAS Nusantara) memberikan catatan kritis sekaligus solusi terkait leadership dalam membangun NTT baik dari sisi politik, ekonomi, dan sosial budaya. Catatan dan gagasan itu mengemuka dalam acara Talk Show di sela temu kangen alumni yang digelar di Aula Universitas Pertahanan, Sentul, Bogor, Jawa Barat, Sabtu 30 September lalu.

    Acara temu kangen yang dihadiri sekitar 400 alumni, dan mantan pengajar ini digelar dalam rangka pesta keluarga memperingati HUT SMAK Syuradikara ke 64, yang mengusung tema tema "Kobarkan Semangat Syuradikara."

    Raldi Doy, General Manager Public Relation tvOne, yang didapuk selaku moderator Talk Show membuka bincang-bincang dengan pernyataan bahwa sudah saatnya para alumni SMAK Syuradikara mengkontekstualisasikan semangat dan nilai nilai spiritual dari cita-cita Syuradikara –Pahlawan Utama, dalam kondisi kontemporer tanah Flobamora, NTT.

    “Sebagaimana penggalan syair hymne Syuradikara ‘cita-cita yang kukandung murni mulia hendak mengangkat (martabat) bangsaku Indonesia’. Gagasan itu yang harus diejawantahkan dalam mendukung pembangunan NTT baik di bidang politik, keamanan, ekonomi, pariwisata ke depan," kata alumni IAS angkata 84 ini.

    Adapun para pembicara yang tampil dalam Talk Show tersebut rata-rata adalah alumni Syuradikara, antara lain Thobias Djaji (Enterpreneur dan Pakar SDM); Pieter Gero (Redaktur Senior Harian Kompas); Dr. Peter Aman, OFM (Dosen STF Driyarkara Jakarta); Kolonel Pas Drs. Agapitus Embu, M.si (Han) (Kabidkerma Pusbangkerma Bainstranas Kementrian Pertahanan); dan Anzy Lema (Pemerhati Politik). Sedangkan pembicara dari luar alumni adalah Dr. Frans Teguhh, MA (Asisten Deputi Pengembangan Infrastruktur dan Ekosistem Kementerian Pariwisata RI).

    Kolonel Agapitus Embu membuka bincang-bincang dengan berbagai mengenai kondisi terkini dari sistem keamaan negara Indonesia. Alumni Syuradikara angkatan 81 ini mengatakan, sebagai sebuah negara, para pemimpinnya harus memastikan rasa rasa aman terlebih dahulu bagi warganya, sehingga masyarakat bisa hidup sejahtera dan berpikir serta bertindah cerdas. “Pemimpin harus mengetahui tiga kebutuhan tersebut supaya bisa tentukan kebijakan strategis. Karena penghuni dunia saat ini sudah mencapai 7 miliar orang, dan saat ini telah terjadi perebutan energi, dan ke depan pasti akan terjadi rebutan makan dan minum (proxy war),” pungkas Kolonel Agapitus.

    Sayangnya, saat ini Indonesia belum mempunyai Dewan Keamanan yang dapat membantu pemerintah dalam hal ini Kementrian Pertahanan dan TNI dalam merumuskan kebijakan strategis kemana nasinal. Di sisi lain, Indonesia juga belum mempunyai UU Kemanan Nasional, UU Penanggulanan Ancaman Terorisme, dan Organisasi Komando Wilayah. “Padahal WNI sudah alami 7-8 jali penyadaeraan seperti oleh Abu Syawab, kemudian ada perlawana OPM di Papua, juga konfik terkait batas negara,” tegas Kolonel Agapitus.

    Keutamaan Pemimpin

    Sementara Pemerhati Politik, Ansy Lema menilai mutu sebuah kebijakan tergantung pemimpinya (leader). Sejatinya, serang pemimpin adalah perintis dan pemberi arah dengan misi dan visi yang jelas. “Dalam politik, pemimpin harus lengkap dalam tiga hal, logis, etis, estetis. Tetapi memang cari pemimpin yang demikian tidak mudah,” kata almuni Syuradikara angkatan 94 ini.

    Thobias Djadji pun memberi pandangan senada. Menurut mantan HRD Total EP ini, seorang leader atau pemimpin harus mempunyai kapabilitas. Dalam hal ini pemimpin harus bisa memberi arah, indpirasi, mengelolah perubahan, mitigasi krisis, dalam meresolusi konfling, dan adaptif. “Tetapi inspirasif itu itu bukan memberi inspirasi, tetapi memberikan keyakinan kepada yang lain juga untuk bisa menerima dan melakukan peruabahan secara bersama-sama,” kata mantan Guru Seminari Mataloko ini.

    Lantas bagaimana mendevelop leader tersebut? Thobyas sepakat pula bahwa proses development leader bisa dimulai dengan rekrutmen, penempatan, pelatihan, pembentukan. “Salah rekrut, kita menyimpan sampah,” tukasnya.

    Kendati demikian, bagaimana pun tantangannya, lanjut Ansy, membangun Indonesia hari ini, harus dimulai dari daerah oleh karena paradigma pembangunan saat ini bukan lagi sentralistik. Hanya saja, mutlak persyaratannya adalah bahwa sebuah daerah maju karena sungguh-sunguh ada pemimpin.

    “Kita bisa lihat Surabaya maju karena ada Risma, Bandung ada Ridwan Kamil, Bantaeng ada Prof Nurdin Abdulah. Banteang ini dulu tertinggal dan sekarang jadi kabupaten contoh bagi daerah lain. Banyuwangi juga demikian, sudah banyak berubah,” urainya.

    Artinya, lanjut mantan aktivis 98 ini, bahwa pembangunan di daerah butuh aktor pempimpin yang mempunyai keutamaan. Masalahnya, pola rekrutmen pemipin saat ini base on partai. Sehingga untuk menghasilkan pemimpin yang baik, maka mekanisme rekrutmenya harus baik. Dalam kondisi ini, ada kebutuhan transformasi partai politik menajadi lebih moderen. Dalam hal ini, ada prinsip meritrokrasi (merit sistem) yang harus menjadi pegangan partai.

    “Saya lagi peduli dengan pemimpin di NTT. Kita juga butuh pemimpin yang memiliki keutamaam, karena masih ada masalah sanitasi, gisi buruk, dll. Repotnya kita rasis. Saya akan pilih gubernur yang sedaerah dengan saya. Jadi merit sistem itu belum menonjol di proses politik kita di NTT,” tegas Ansy.

    Dia menambahkan, “Politik itu bonum commune, how to get power dan how use power. How to use ini yang tidak banyak. Ini pekerjaan rumah kita bersama.”

    Baca Peluang

    Di kesempatan yang sama, Pieter Gero menegaskan, para pemimpin di NTT saat ini sudah saatnya menangkap peluang pembangunan yang tengah gencar dilakukan pemerintah. Misalnya anggaran infrastruktur yang sebegitu besar, juga rencana investasi di sektor ekonomi lainnya, satu persen saja ditarik ke NTT, mempunyai dampak yang begitu besar.

    “Peluang ekonomi di NTT lagi bagus. Presiden Joko Widodo sudah sering ke NTT, kemudian Menteri PUPR, Basuki sudah pernah berkarya selama empat tahun di Kupang, beliau paham betul apa yang perlu dilakukan di NTT. Jadi para pemimpin kita harus mendangkap peluang ini, ambil investasi jangka panjang” jelas alumni angkatan 84 ini.

    Kepala Desk Ekonomi Harian Kompas ini juga menjelaskan, para pemimpin di NTT juga harus mempunyai visi ke depan yang disusun secara baik. Dalam hal ini bisa didasarkan pada data-data ekonomi yang valid. “Pemipmin harus pintar analisa data. Yang kuasai data, akan menguasai ekonomi. Praktek di dunia seperti itu. Ini bisa dimulai dengan memilki riset center yang melibatkan sektor akademik,” pungkas Pieter.

    Sementara Dr. Frans Teguhh, MA, Asisten Deputi Pengembangan Infrastruktur dan Ekosistem Kementerian Pariwisata RI mencermati perihal birokrasi di NTT yang lamban oleh karena skill yang tertinggal dibanding daerah lainnya. “Cara berpikir kita punya pimpinan di NTT belum ada banchmarking. Masih inbox, harusnya lebih smart, baca peluang,” katanya.

    Dia menyebutkan, Provinsi NTT itu saat ini masuk dalam top hundred atau 100 besar kalender internasional. Seperti event internasional Tour de Flores, Pasola, dan Festival Kebangsaan di Lembata dan Rote. “Pertanyaanya kita konsisten ga? Poin saya, banyk hal yang bisa dikerjakan dari event-event tersebut,” katanya

    Dia mengatakan, Indonesia mempunyai target 20 juta juta wisatawan yang akan berkunjung ke Indonesia di tahun 2019. Untuk itu, semua wilayah harus siap sedia menjadi destinasi pariwisata internasinal. “Makanya kita di NTT harus gencar untuk meningkatkan services quality. Sisi lain, harus banyak produksi event internasional. Siapkan design culture dan economic value dari semua event tersebut. Teman-teman IAS harus berkontribusi untuk pikirkan rencana aksinya,” imbau alumni Seminari Mataloko ini.

    Frans menjelaskan, setiap wisatawan biasanya menghabiskan angaran sebesar 1.200 dolar setiap kunjungan, atau 100-15- dolar per hari. Dengan demikian, pemerintah daerah dan para pelaku pariwisata di daerah harus bisa menyiapkan kamar yang mumpuni. Setiap 100 kamar membutuhkan 300 karyawan, dengan asumsi per kamar membutuhkan minimal 3 petugas.

    Selain itu, pelaku usaha pariwisata juga bisa memikirkan bisnis model lain. Sejatinya, kata Frans, dengan anggaran Rp 50 juta, sudah bisa menciptakan destinasi wisata baru. “Ini peluang yang harus dipikirkan pemerintah dan para pelaku usaha perhotelan. Juga teman-teman IAS di daerah harus memikirkan ini, bahwa bisnis pariwisata adalah cara yang paling murah untuk meningkatkan lapangn kerja dan kesejahtaaan,” jelas Frans.

    Kendati demikian, Frans mengingatkan bagi para pemimpin, pelaku usaha pariwisata, dan masyarakat di NTT, janganlah memberi janji dan promosi yang muluk tentang pariwisata di NTT, jiga tidak dapat mempertanggungjawabkan promosi tersebut.

    “Ada promise ‘Welcome to NTT. Nah, pertanggungjawabannya adalah jamin wisatawan dapat pengalaman terbaik. Kalau belum, sebaiknya jangan dipromosi. Kita harus bisa siapkan lebih baik dengan masyarakat, jika sudah ready baru dipromosikan secara massif,” katanya.

    Frans juga mengingatkan bahwa bisnis pariwisata pada dasarnya adalah community basse, dalam artian, mengembangkan pariwisata sama dengan mengembangkan masyarakat. “Bangun infrastruktur itu untuk menunjang kebutuhan masyarakat, bukan wisata. Kehadiran tourist itu nilai plus-nya,” tegas Frans.

    Kapitalisasi Pariwisata

    Lebih lanjut Frans menegaskan, sebanyak 10 destinasi baru di NTT harus bisa dikapitalisasi. Karena pariwista itu adalah usaha membuat orang senang dan bahagia. “Life is balancing, kita membuat keseimbangan. Tetapi untuk mengurusnya harus serius,” katanya.

    Sayangnya, sejauh ini usaha pariwisata di NTT tidak dikapitalisasi secara serius. Misalnya, sejatinya wisatawan dengan tujuan Labuan Bajo tidak harus langsung terbang dari Bali menuju ke sana, karena perjalan tersebut terlampau murah dan mudah.

    “Harus dikreasi, sehingga Labuan Bajo dan Komodo yang cantik jangan dibuka semua. Sekarng kita membiarkan wisata secara langsung menuju ke sana, kapan saja. Ini siklusnya kurang pas. Seharunysa jika komodo bertelur, jangan dikunjungi wisatawan selama dua bulan, di masa itu, mereka bisa diarahkan ke Riung, Bena, Kelimutu, dll,” urai Frans.

    Dia juga menegakan dari sisi packeging pariwisata yang harus menarik. Dalam hal ini, pengembangan pariwisata NTT perlu komitmen pemimpin yang melihatkan pihak akademik. Misalnya, pihak kampusbisa mengemas ulang legenda dengan nilai etik yang menarik wisatawan.

    “Cerita yang dibuat harus jadi soul of destination. Jadi harus sampai para wisatawan baru sadar, oh konyol ya.. Pada akhirnya wisatawan ingin terus menggali, sehingga mereka semakin lama tinggal. Ini bagus buat bisnis pariwisata kareba kebutuhan wisata bertambah,” katanya.

    Selain itu, arsitektur lokal juga harus diperhatikan dalam mengembangkan pariwisata di NTT. “Pariwisata itu mendrive orang untuk datang. Semakin lokal, semakin menarik. Ini paradox,” katanya.

    Selain itu, bisa dibuatkan calendar of event di setiap tahun sehingga bisa diketahui oleh wisatawan kapan mereka harus datang lagi. Terkait hal ini, Raldy Doy, yang juga pengurus IAS Nusantara menegaskan bahwa IAS Nusantara akan akan mengambil salah satu even internasional di NTT, seperti Tour de Flores. “Tunggu tanggal mainnya. Kita ingin berkontribusi nyata untuk Flobamora,” kata Raldy menimpali.

    Krisis Kepemimpinan

    Di akhir Talk Show, Dr. Peter Aman, OFM yang mendapat kesempatan paparan langsung memberikan kesimpulan pemungkas mengenai kepemimpinan. Menurutnya, tidak hanya di NTT, bangsa Indonesia yang bagus ini masih mengalami krisis kepemimpinan. Mengapa terjadi demikian?

    “Saat in pemimpin kita memang tidak jadi pahlawan, tetapi kita jadi penguasa minus etika. Makanya orang jadi penguasa dulu baru belajar etika. Makanya banyk penataran dilakukan kementrian. Tetapi tetap saja, etikanya sulit melekat dalam kepemimpinan itu,” tegas Romo Peter.

    Alhasil, setiap pergantian resim, estafet kepemimpinan tidak pernah mulus. Dia mengatakan,s sejatinya para pemimpin belajar dari kepemimpinan Nabi Musa. Nabi Musa, kata Romo Peter, berhasil merawat asa, idealisme, cita-cita untuk mencapai tanah terjanji, menjadi kosep dan kepedulian bersama bangsa Israel kala itu.

    “Nabi Musa adalah pemimpin yang memberi arah. Pemimpin kita bicara Pancasila tiap detik, tetapi tidak tau arahnya kemana depan,” katanya.

    Nabi Musa, lanjut dia, tidak sampai tanah terjanji, namun dia telah menyiapkan pemimpin berikutnya. Dengan demikian ada estafet kepemimpinan yang sukses. “Tidak di kita zaman ini. Karena kita penguasa, bukan pemimpin,” tegas Romo Peter.

    Menurut Romo Peter, hal ini terus terjadi bukan karena para pemimpin kita tidak mempunyai idealisme, namun karena penguasa tidak menjadikan itu sebagai pegangan bagi dirinya. “Pemimpin sudah selesai dengan dirinya, jadi dia harus memberi diri untuk orang lain. Tetapi para pemimpin kita kebalikannya, mereka merekrut semua dukungan untuk memulai kekuasannya,” tegasnya.

    Semuanya itu, lanjut Romo Pater, karena proses menjadi pemimpin yang krisis nilai. Misalnya internalisasi nilai di sekolah tidk berjalan dengan baik. Sekolah kita banyak melakukan indoktrinasi ideology sehingga gagal ciptakan manusia bermutu. “Hasilnya krisis kepemimpinan yang sangant besar, misalnya pemimpin tidak merasa korup kalau belum ditangkap KPK. Jadi kembali lagi nilai keutamaan itu nomor satu,” tegas Romo Peter sekaligus menutup diskusi.

    Ketua IAS Nusantara Dr. Ignatius Iryanto Djou sebelumnya menjelaskan, leadership atau kepemimpinan akan menjadi pintu masuk dari sharing dan refleksi karena diyakini oleh alumni bahwa penanganan berbagai tantangan dalam aspek aspek kehidupan sangat ditentukan oleh kualitas leadership yang ada dalam berbagai komunitas, organisasi maupun institusi masyarakat.

    Persoalan persoalan khas di bumi Flobamora seperti rendahnya kualitas pendidikan, kemiskinan maupun potensi potensi yang juga ada di sana seperti pariwisata dengan berbagai industri terkait, akan coba dibahas dengan tujuan untuk mendapatkan rencana aksi dalam jangka panjang, yang dapat dilakukan oleh seluruh kekuatan alumni dalam menyongsong HUT ke-65 tahun 2018 nanti.

    "Alumni akan menawarkan diri sebagai mitra dari almamater, bukan sekadar sebagai donator, sebagaimana selama ini alumni diposisikan,dalam posisi mitra, alumni akan menggandeng almamater untuk secara bersama dan setara, memberikan kontribusi seberapapun kecilnya bagi peningkatan kualiatas kehidupan bangsa, khususnya di bumi Flobamora," kata Iryanto.

    (che/indo)