Pemuda Era Milenial Tidak Boleh Melupakan Para Pencetus Nasionalisme - Trias Politika
  • Breaking News

    Pemuda Era Milenial Tidak Boleh Melupakan Para Pencetus Nasionalisme

    Sekjen Garda NTT, Marlin Bato


    INDOPOST, JAKARTA - Setiap tanggal 28 Oktober tiap masyarakat Indonesia selalu memperingati hari Sumpah Pemuda. Momen itu dikenang sebagai hari yang paling penting menentukan sejarah bangsa dan cikal bakal bersatunya semua elemen pemuda dari berbagai latar belakang di seluruh penjuru Nusantara untuk terikat dalam sebuah "nation-state" atau bangsa.

    Disinilah, rasa kebangsaan cinta tanah air yang dikenal dengan istilah Nasionalisme mulai tumbuh. Tidak ada perbedaan suku, agama, ras dan antar golongan melainkan satu kesatuan. Demikian dikatakan Sekretaris Jenderal Gerakan Patriot Muda Nusa Tenggara Timur (Garda NTT), Marlin Bato dalam pernyataannya kepada awak media The Indonesian Post, Minggu, (29/10/2017).

    Menurut Marlin, pemuda jaman sekarang sudah semakin cerdas dan mempunyai tantangan yang serius di era milenial. Terlebih, kata dia, semua perubahan ada dalam genggaman kecanggihan teknologi. Namun dia berharap, pemuda tetap selalu mengingat para pencetus sumpah sakti ini yang membawa spirit nasionalisme untuk menyatukan semua elemen bangsa. Karena peran pemudalah, perubahan nasib suatu bangsa ditentukan.

    "Di ulang tahun yang ke 89 ini, saya berharap, pemuda jaman milenial terus mengingat momentum ini sebagai akar lahirnya nasionalisme yang menyatukan kita. Pemuda tidak boleh melupakan para pencetus gagasan sumpah sakti ini. Tanpa momentum ini, kita bisa saja belum menikmati kemerdekaan," ujarnya.

    Sumpah Pemuda, lanjut Marlin, merupakan hasil Kongres yang dirumuskan pada 28 Oktober 1928 di Batavia (kini Jakarta). Karena itu, terang dia, peristiwa ini menjadi satu tonggak penting dalam sejarah pergerakan nasional bangsa Indonesia.

    "Para pencetus sumpah sakti ini terdiri dari organisasi pemuda seperti Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, Sekar Rukun, PPPI, Pemuda Kaum Betawi, dan masih banyak lagi. Sejarah ini, harus dikenang terus menerus," papar aktivis muda ini.

    Ketika dikonfirmasi terkait peran Garda NTT dalam momentum sumpah pemuda kali ini, Marlin mengatakan bahwa biasanya setiap tahun Garda NTT menyelenggarakan kirab kebangsaan dengan mengangkat tema budaya dari masing-masing daerah. Kegiatan ini kerap dilaksanakan di kisaran bundarah Hotel Indonesia (HI) hingga patung kuda Monumen Nasional. Namun kali ini, kata dia, Garda NTT tunda dulu dan mengalihkan ke kegiatan yang lain.

    "Betul, biasanya kami selenggarakan kirab kebangsaan tiap tahun untuk menyongsong hari sumpah pemuda. Biasanya tanggal 27 Oktober malam ya, dari Bundaran Hotel Indonesia lalu berjalan beriringan membawa obor sambil bernyayi dan menari menuju patung kuda Monas. Saya sudah bicara dengan ketua saya, pak Wilfrid Yons Ebiet, kali ini kami puasa dulu. Kami akan fokus di kegiatan lain dulu, seperti diskusi, seminar dan lainnya. Tahun lalu kegiatannya macam-macam. Mulai dari pawai obor, tari-tarian hingga teater, puisi dan orasi," tutup Marlin.

    (red/indo)