Perempuan Penenun Lungsing - Trias Politika
  • Breaking News

    Perempuan Penenun Lungsing

    (Sebuah resensi: Luka, Lawo, Ngawu - Kekayaan Kain Tenunan dan Belis di Wilayah Lio, Flores Tengah)

    Penulis: Marlin Bato

    Judul : LUKA, LAWO, NGAWU – Kekayaan Kain Tenunan dan Belis di Wilayah Lio, Flores Tengah

    Penulis : Prof. Dr. Willemijn de Jong
    Penerbit : Penerbit Ledalero, Cet. 1 Oktober 2015
    Jumlah Hlm : xiv 456 hlm
    Ukuran buku : 150 x 230 mm
    ISBN : 978-602-1161-14-2
    Harga : Rp.95.000
    Kategori : Sosio Antropologi

    Buku etnobudaya berjudul; Luka, Lawo, Ngawu ini buah karya Prof. Dr. Willemijn de Jong, hasil penelitian selama kurang lebih dua (2) tahun di wilayah Nggela pada tahun 1998-2000. Dalam buku ini De Jong banyak menceritakan secara detail tentang kampung Nggela dengan seluruh rangkaian aktivitasnya. Salah satu keberhasilan De Jong adalah mampu menggambarkan secara rinci tempat dan lokasi serta rangkain kronologi yang ada di buku tersebut.

    Di sisi yang lain, ia juga mengungkapkan hal-hal unik tentang Nggela. Tentu saja perjalanan penelitiannya setidaknya mengalami beberapa kesulitan dalam menggali nilai-nilai peradaban budaya Lio khususnya kampung Nggela, terlebih disebabkan oleh budaya dan bahasa yang berbeda.

    Buku berjudul; Luka, Lawo, Ngawu karya de Jong disebut sebagai sebuah buku yang sangat bagus, buku langka karena baru kali ini ada sebuah buku yang mendokumentasikan warisan tradisi Lio secara detail dan dilengkapi dengan ulasan singkat tentang sejarah dan ritus-ritus dalam masyarakat adat Lio hingga teknik pembuatan dan pewarnaan tenun yang dipaparkannya dalam upaya pelestarian tradisi menenun masyarakat Lio.

    Selama penelitian, Willemijn de Jong benar-benar terlibat dan memahami secara utuh proses pembuatan tenun, mulai dari proses dasar hingga akhir. Hal yang lebih spesifik diangkat oleh De Jong adalah perempuan-perempuan dan hubungan sosial mereka dengan kaum laki-laki dalam konteks rumah tangga serta kekerabatan di dalam masyarakat kampung. Perempuan Lio khususnya Nggela menurut kajian de Jong bukan hanya sebagai objek lembaga belis tetapi juga menduduki posisi paling berpengaruh karena mereka menguasai produk ekonomi kreatif dengan kualitas prestis.      

    Perempuan Nggela menurut de Jong, bukan hanya berada pada pusaran ekploitasi kaum laki-laki, tetapi melalui arti sebuah tenun, de Jong menegaskan pentingnya posisi dan pengaruh perempuan Nggela dimata kaum laki-laki.

    Perempuan bagi lelaki Lio umumnya, dan Nggela khususnya berada pada hirarki tertinggi simbol kelahiran dan kesuburan. Maka perempuan Lio diasosiasikan sebagai pertiwi (ibu bumi).
    Kiasan “Ibu pertiwi/bumi”, secara harfiah, dimaknai oleh teori ekofeminis untuk menggambarkan kemampuan kaum perempuan dalam hal melahirkan anak, sama halnya dengan bumi, rahim kehidupan.

    Kedekatan kaum perempuan dengan alam, atau hakikat alamiah kaum perempuan memberikan nilai moral yang lebih tinggi, yang memiliki intuisi dan hubungan mistis dengan alam karena mengalami “pengalaman” eksploitasi yang sama. Dengan demikian kaum perempuan akan memiliki “suara” lebih lantang dalam memelihara bumi, melawan eksploitasi dan ilmu pengetahuan kaum lelaki.
                                                                                                        
    Melalui budaya menenun perempuan penenun Nggela, de Jong hendak menyampaikan nilai-nilai kebaikan sebagai sumber kehidupan. Dalam banyak hal nilai-nilai itu bahkan ditunjukkan melalui sikap yang tegas terhadap sejumlah persoalan sosial dan ekonomi. Berbagai ragam ilmu dan motif menenun diperankan oleh perempuan yang kerap terpinggirkan oleh dominasi patriarki. Bahkan kadang perempuan harus mempertaruhkan keselamatan demi martabat dan setaraan yang dalamnya terbungkus kecantikan, berderap irama naluri dan nurani tanpa teriak.

    Hasil penelitian berjudul; Luka, Lawo, Ngawu ini setebal 456 halaman. Tahun 1998 terbit dalam bahasa Jerman, dan kini diterjemahkan dalam bahasa Indonesia atas peran penerbit Ledalero. Willemijn de Jong mengupasnya dengan teliti. Setiap runut dan rangkaian kisah diangkat dengan sangat akurat sesuai kesatuan lokalitas kampung Nggela. De Jong menggambarkan kelompok masyarakat di tepi wilayah yang diorganisasi secara egaliter namun tersusun hirarki yang solid dimana peran perempuan selalu dimaknai sebagai penopang kaum lelaki. Sama persis seperti sebuah anekdot; "dibelakang lelaki sukses, pasti ada wanita hebat".

    Kesimpulan:
    Menenun lungsin bagi perempuan Nggela itu tidak hanya menjadi magnet untuk ladang mencari uang, tetapi juga menjadi ladang barter dan tumbuhnya mahar optimisme serta setaraan derajat. Menenun juga bukan hanya sekedar memenuhi standar ekonomi, tetapi merupakan bagian dari atraksi cipta harmoni kaum penenun gender. Hal itu terbukti bahwa langkah-langkah krusial dalam perkembangan utama manusia dibumi ini banyak terinsipirasi oleh perempuan.

    Ketika matahari berdiri tegak di ufuk sana, jemari kaum penenun Nggela aktif menganyam lungsin. Dari helai-helai tercipta lembar-lembar cindera[ber]mata saga, yang kelak menjadi mahar sebagai silih pribadi prestis. Sehelai benang, seribu martabat, sebagai simbol pribadi terhormat, sebagaimana hakikat kesetaraan derajat antara kaum feminim maupun kaum maskulin.

    Salam lungsin dari Nggela..!!