Upaya Pemulihan Ekonomi Turki - Trias Politika
  • Breaking News

    Upaya Pemulihan Ekonomi Turki

    Perdana Menteri Turki, Binali Yildirim



    ANKARA - Perdana Menteri Turki, Binali Yildirim menyampaikan rencana pemangkasan suku bunga perbankan untuk menekan inflasi dan memulihkan perekonomian negaranya yang mulai dilanda gejolak.

    Pada pertemuan program kerja kabinet yang berlangsung di pusat kongres dan budaya bangsa kantor kepresidenan Turki, Yildirim mengungkapkan bahwa pemulihan kondisi ekonomi dan peningkatan taraf kesejahteraan harus dilakukan melalui sebuah konsensus nasional mengenai pemangkasan suku bunga perbankan, dan penurunan inflasi di bawah tujuh persen.

    Kondisi perekonomian Turki selama beberapa tahun terakhir memaksa Presiden Recep Tayyip Erdogan mengeluarkan peringatan keras terhadap sektor perbankan negaranya supaya memangkas suku bunga yang tinggi, dan menghentikan aksi cari untung di luar kewajaran. Tapi seruan tersebut tidak digubris oleh pihak perbankan Turki yang tidak bersedia menurunkan tingkat suku bunganya. Erdogan dalam statemennya mengakui bahwa pemerintah Turki kewalahan mengendalikan kondisi moneter negara itu.

    Tampaknya, masalah perekonomian Turki yang terjadi saat ini berkaitan langsung dengan kondisi yang terbentuk selama 20 tahun silam  ketika Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) baru merambah jantung kekuasaan Turki. Sejak saat itu hingga tahun 2012 terjadi pertumbuhan ekonomi yang mengesankan. Kondisi tersebut tidak bisa dilepaskan dari kebijakan dalam dan luar negeri yang selama ini dijalankan oleh pemerintah Turki.

    Tampaknya, dalam kebijakan domestik bisa dilihat bagaimana upaya pemerintah Ankara untuk menyelesaikan masalah warga etnis Kurdi yang merupakan alasan paling penting untuk mengembalikan keamanan dan ketenteraman masyarakat. Kondisi tersebut memberikan kontribusi penting bagi terwujudnya iklim yang kondusif untuk menarik investasi asing dan mendorong pertumbuhan sektor pariwisata negara ini.

    Tapi sejak tahun 2014 terjadi perubahan signifikan dengan turunnya perekonomian Turki. Pada saat yang sama kondisi sosial yang tidak kondusif akibat perseteruan antara negara ini dengan tetangganya, terutama Suriah dan Eropa mempengaruhi sektor pariwisata yang menjadi andalan pendapatan devisa negara.

    Kebijakan luar negeri Turki dalam masalah terorisme dan dijadikannya negara ini sebagai jalur transit bagi teroris yang memasuki Suriah menimbulkan masalah baru bagi keamanan nasional Turki yang menyebabkan terjadinya masalah di dalam negeri Turki, terutama terhambatnya pertumbuhan ekonomi negara ini.

    Kini berbagai langkah telah ditempuh pemerintah Turki untuk memulihkan kondisi perekonomiannya, termasuk upaya Erdogan membangkitkan spirit nasionalisme bangsanya yang menyerukan rakyat menukarkan valuta asing dengan mata uang nasional lira. Tetapi faktanya tetap tidak membuahkan hasil signifikan. Langkah lain yang ditempuh pemerintah adalah memangkas suku bunga perbankan.

    Mengenai masalah ini, pengamat masalah Turki, Farzad Ramezani mengatakan, "Meskipun pejabat Turki mengklaim bahwa tantangan penurunan ekspor negara ini bukan dipicu oleh penurunan tingkat dan volume ekspornya, dan mereka meyakini disebabkan masalah penurunan harga mimnyak global dan naiknya nilai tukar dolar sebagai parameter global untuk mengukur kondisi perekonomian negaranya. Tapi anjloknya nilai tukar Lira, eskalasi konflik dan krisis ekonomi politik yang menimpa Turki serta iklim investasi yang tidak kondusif, akan mendorong negara ini menuju fase baru yang rumit,".

    Dalam kondisi demikian, kubu oposisi menilai AKP sebagai pihak yang harus bertanggung jawab terhadap kondisi perekonomian yang memburuk, dan semua itu hasil dari kebijakan dalam dan luar negeri pemerintahan yang dikuasai AKP.

    (ph/inf)