Sepak Terjang Ali Ngabalin Dari Kritik SBY, Jadi Timses Prabowo Hingga Jubir Jokowi - Trias Politika
  • Breaking News

    Sepak Terjang Ali Ngabalin Dari Kritik SBY, Jadi Timses Prabowo Hingga Jubir Jokowi

    Ali Mochtar Ngabalin usai bertemu Jokowi di Istana



    JAKARTA - Politikus Golkar Ali Mochtar Ngabalin kini berada di lingkaran Istana Kepresidenan. Dia bertugas dalam kaitan komunikasi politik pemerintah.

    "Alhamdulillah, (saya ditempatkan) di tenaga ahli utama KSP (Kantor Staf Presiden). Setiap saat difungsikan sebagai juru bicara pemerintah," kata Ali Mochtar Ngabalin saat dikonfirmasi awak media, Rabu (23/5/2018).

    Sosok Ngabalin sudah tak asing lagi di panggung politik nasional. Namanya dikenal saat menjadi anggota DPR RI periode 2004-2009.

    Ngabalin jadi anggota dewan dengan kendaraan politik Partai Bulan Bintang (PBB) besutan Yusril Ihza Mahendra. Dia waktu itu menjabat sebagai Ketua DPP PBB.

    Pada tahun 2009, dia berbeda suara dengan keputusan Ketum PBB waktu itu, MS Kaban. PBB kala itu mendukung pasangan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Boediono dalam Pilpres 2009. Sementara Ngabalin berada dalam tim sukses Jusuf Kalla (JK)-Wiranto.

    Selama menjadi anggota dewan, Ngabalin memang kerap kritis terhadap pemerintahan Presiden SBY. Padahal SBY waktu itu berpasangan dengan Jusuf Kalla.

    Salah satu sikap kritisnya terhadap pemerintah adalah saat pembahasan RUU Rahasia Negara. Ngabalin mengkritik sikap pemerintah yang menarik RUU Rahasia Negara di tahun 2009.

    "Apresiasi saya atas mencla-menclenya presiden. Tunjukkan kepada saya yang mana yang diragukan dari sebuah negara yang besar ini. SBY pernah mengatakan bahwa negara harus kuat, tidak boleh dikalahkan oleh kepentingan apapun. Sekarang, dia dikalahkan oleh 70 orang," kata Ngabalin di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (16/9/2009).

    Dia lantas disanggah oleh anggota Komisi I DPR dari Partai Demokrat Syarief Hasan. Adu mulut pun tak terhindarkan waktu itu.

    Ngabalin kemudian menantang MS Kaban dalam Muktamar III PBB pada tahun 2010. Meski sukses mengalahkan Yusril di tahap pertama, namun dia dikalahkan oleh Kaban pada tahap kedua. Waktu itu Ngabalin mendapat 123 suara dan Kaban 325 suara.

    Masih di tahun yang sama, Ngabalin 'loncat' ke Partai Golkar yang waktu itu dipimpin oleh Aburizal Bakrie (Ical). Pilihannya ke partai berlambang pohon beringin itu karena mengikuti jejak sang ayah.

    "Saya punya bapak pendiri Golkar. Ayah saya sekber Golkar, jadi kalau ke Golkar bukan sesuatu yang baru," kata Ngabalin kepada wartawan usai penutupan Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) I Partai Golkar, di Hotel Borobudur, Selasa (19/10/2010).

    Baca juga: Politisi Golkar Ini Diangkat Jadi Staf Ahli KSP dan Jubir Pemerintah

    Kiprahnya di Golkar kemudian membuat dirinya jadi tim sukses pemenangan pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa dalam Pilpres 2014. Waktu itu dia memperkuat di tim debat pasangan tersebut.

    Prabowo-Hatta kala itu akhirnya kalah dari pasangan Joko Widodo (Jokowi)-Jusuf Kalla (JK). Ngabalin pun menjadi 'oposisi'.

    Ngabalin juga sempat membuat kontroversi lewat pernyataannya. Dia waktu itu 'mendesak' Allah SWT untuk memihak Prabowo.

    "Tidak ada yang salah dengan pernyataan itu. Saya percaya kalau mendesak Allah Ta'ala berpihak kepada kebenaran, keadilan dan kepastian hukum dalam hal ini kepada Prabowo Subianto itu sah-sah saja dan saya tentu bisa pertanggungjawabkan," kata Ngabalin kepada detikcom waktu itu, Kamis (7/8/2014).

    Saat di Golkar, Ngabalin juga pernah berseteru dengan rekan sesama kader partai tersebut. Waktu itu dia berada di kubu pimpinan Ical berseteru dengan Yorrys Raweyai yang berada di kubu Agung Laksono di tahun 2015.

    Kini Golkar sudah jadi partai pendukung pemerintah. Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto pun kini jadi Ketua Umum Golkar. Ngabalin akhirnya masuk ke lingkaran Istana.

    Ketua Mubaligh yang Selalu Pakai Serban

    Ciri khas seorang Ali Mochtar Ngabalin adalah selalu pakai serban. Kain putih itu selalu menempel di kepala Ngabalin.

    Pada tahun 2008, Ngabalin pernah menemui Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Syihab. Waktu itu Ngabalin sebagai anggota DPR membela FPI terkait kasus penyerangan di Monas pada 1 Juni 2008.

    "Saya juga mau tanya kok bisa Habib ditahan? Kenapa setelah 3 hari baru ditangkap? Penangkapan tidak beralasan. Menurut saya, ada desain ini pengalihan isu. Pemerintah jangan menggunakan politik busuk, orang sudah tahu," kata Ngabalin saat membesuk Rizieq di Mapolda Metro Jaya, Jumat (6/6/2008).

    Soal serban yang selalu melekat ini, Ngabalin pernah bercerita kepada detikcom. Waktu itu dia berkata bahwa serbannya adalah penangkal suap.

    "Waduh pakai sorban itu sudah lama, waktu ayah saya masih hidup. Saya sudah tidak ingat lagi, dulu ayah saya memandikan saya dan memberikan simbol topi dato ini. Namanya topi tobone, sorbannya dari Yaman," kata Ngabalin saat berbincang-bincang dengan detikcom di sela Mukernas PBB IV di Hotel Grand Cempaka, Jakarta Pusat, Rabu (16/7/2008).

    Ali kemudian melepas topi sorban yang melekat di kepalanya untuk diperlihatkan pada detikcom, sambil menerangkan bahwa tidak butuh waktu lama untuk menggunakan topi bersorban itu. Dia juga bercerita saat dicap sebagai 'anggota Taliban'. Namun Ngabalin tak mempermasalahkan.

    "Kita dengan begini bisa menahan diri (dari suap), menjadi forbidden-lah," kata Ngabalin.

    Ali Mochtar Ngabalin saat ini juga merupakan Ketua Badan Koordinasi Muballigh Seluruh Indonesia. Ngabalin pun turut dalam aksi di depan Istana pada 4 November 2016, atau Aksi 411.

    "Kemarin kita bisa lihat dengan bebasnya bang Ali Ngabalin ngomong gini, gini, gini, saya ngintipin saja, ada salahnya nggak ini. Di Monas di posko di situ semua kamera bisa dilihat, kata-katanya apa. Kita lihatin salah nggak nih kawan. Kalau salah kita angkat dia ini," canda Kapolri Jenderal Tito Karnavian dalam sebuah acara Golkar, di Seminar Partai Golkar di Hotel Sultan, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Sabtu (9/9/2017).

    Tapi menurut Tito, orasi Ngabalin tak salah. Tito pun mengapresiasi Ngabalin.

    "Canggihnya kawan kita ini nggak ada salahnya. Abis marah-marah, nyebut nama pemerintah dan presiden, selesai itu WA lagi," kata Tito.

    (bag/tor/in)