Demokrat-Gerindra Tegang Lagi, Timses Jokowi: Dosis Keretakan Koalisi Prabowo Sangat Parah! - Trias Politika
  • Breaking News

    Demokrat-Gerindra Tegang Lagi, Timses Jokowi: Dosis Keretakan Koalisi Prabowo Sangat Parah!

    Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Maruf, Abdul Kadir Karding



    INFILTRASI - Hubungan Demokrat dan Gerindra tengah tidak harmonis. Hal ini berawal dari pernyataan Sekretaris Jenderal Partai Gerindra, Ahmad Muzani yang menagih janji Demokrat untuk mengkampanyekan Prabowo-Sandiaga.

    Menanggapi situasi ini, Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Maruf, Abdul Kadir Karding menilai cuitan SBY tersebut merupakan tanda masalah internal di tubuh koalisi Prabowo.

    "Kalau melihat tweet yang disampaikan Pak SBY, itu artinya dosis keretakan koalisi adil makmur itu sudah dikatakan sudah sangat berbahaya dan parah. Tweet semacam itu disampaikan oleh pucuk pimpinan tertinggi dan tokohnya Demokrat artinya saya menduga sudah dosis yang luar biasa," ujar Karding saat dikonfirmasi wartawan, Jumat (16/11).

    Sejatinya, Karding mengaku tidak terkejut akan adanya komentar SBY terkait 'tugas' partai pendukung pasangan calon nomor urut 02 itu. Menurutnya, sejak awal pembentukan koalisi tersebut dirasa tidak cukup adil bagi partai lainnya.

    Seperti mencalonkan presiden dan wakil presiden dari partai berlambang burung Garuda tersebut. Meski dilihat secara administrasi, Sandiaga Uno tidak lagi Wakil Ketua Gerindra, tapi tak dipungkiri hal itu tetap hanya menguntungkan Gerindra.

    Selain penentuan capres-cawapres, menurut Karding, sindiran Wakil Sekjen Partai Demokrat, Andi Arief mengenai istilah 'Jenderal Kardus' merupakan indikasi awal koalisi Prabowo-Sandi tidak harmonis.

    "Dari sisi politik bahwa koalisi ini memang sejak awal dapat dikatakan sudah bermasalah, adanya istilah mahar jenderal kardus dan seterusnya sebenarnya itu adalah tanda-tanda yang kedua," ujarnya.

    "Diperparah oleh ketidakcanggihan Gerindra yang sesungguhnya cukup dengan dicalonkannnya Pak Prabowo itu sudah dahsyat, karena kemungkinan akan mendapatkan efek ekor jas. Tetapi ternyata kan yang dipasang untuk wakilnya juga Gerindra itu namanya Sandiaga Uno walaupun pura-pura keluar orang juga semua tahu," tukasnya.

    Sebelumnya, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) merespons pernyataan Sekjen Gerindra Ahmad Muzani. Muzani sempat mengungkap, SBY berjanji akan mengkampanyekan Prabowo-Sandiaga di Pilpres 2019.

    SBY mengakui, sebenarnya dirinya tak harus tanggapi pernyataan Muzani. Namun, karena nadanya tak baik dan terus digoreng terpaksa merespons.

    "Daripada menuding dan menyalahkan pihak lain, lebih baik mawas diri. Mengeluarkan pernyataan politik yang sembrono, justru merugikan. Saya pernah 2 kali jadi Calon Presiden. Saya tak pernah menyalahkan & memaksa Ketum partai-partai pendukung untuk kampanyekan saya," tulis SBY dalam akun Twitter-nya, @SBYudhoyono dikutip merdeka.com, Kamis (15/11).

    SBY menjelaskan, dalam pilpres yang paling menentukan Capres-nya. Capres adalah super star. Capres mesti miliki narasi dan gaya kampanye yang tepat. Dia menilai, saat ini rakyat ingin dengar dari Capres apa solusi, kebijakan dan program yang akan dijalankan untuk Indonesia 5 tahun ke depan.

    "Kalau jabaran visi-misi itu tak muncul, bukan hanya rakyat yang bingung, para pendukung pun juga demikian. Sebaiknya semua introspeksi," kata SBY lagi.

    (ray/inf)