Donald Trump Dituding Tak Berdaya di Hadapan Saudi - Trias Politika
  • Breaking News

    Donald Trump Dituding Tak Berdaya di Hadapan Saudi

    Donald Trump



    INFILTRASI - Akhirnya setelah beberapa pekan, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengumumkan sikapnya terkait laporan-laporan seputar keterlibatan Putra Mahkota Arab Saudi dalam pembunuhan wartawan pengkritik Riyadh, Jamal Khashoggi dan mendukung penuh pemerintah Riyadh.

    Dalam pernyataan itu Trump mengatakan, dinas-dinas intelijen Amerika masih terus melakukan evaluasi terhadap informasi-informasi yang diperolehnya. Ada dugaan kuat putra mahkota Saudi mengetahui peristiwa menyedihkan ini, ada kemungkinan ia tahu, tapi mungkin juga tidak tahu.

    Meski demikian Trump tetap menolak untuk mengecam Saudi dan putra mahkotanya dan alasannya tentu kontrak raksasa pembelian senjata oleh Riyadh dari Washington yang ditandatangani dalam lawatan presiden Amerika tahun lalu.

    Pernyataan Trump itu disampaikan di saat publik di dalam maupun luar Amerika sangat marah dengan cara-cara pembunuhan yang diduga dilakukan terhadap Khashoggi. Hampir seluruh negara dunia percaya bahwa Putra Mahkota Saudi, Mohammed bin Salman terlibat dalam pembunuhan ini dan ia memerintahkan agar tubuh wartawan Saudi itu dimutilasi.

    Bahkan dinas intelijen pusat Amerika, CIA sendiri meyakini bahwa Bin Salman adalah orang yang memerintahkan pembunuhan tersebut.

    Di Kongres muncul tuntutan lintas partai oleh anggota lembaga legislatif Amerika agar ekspor senjata ke Saudi dihentikan. Mereka percaya Riyadh harus ditekan untuk menghentikan pembunuhan massal di Yaman, bahkan Washington harus mencabut dukungan atas Bin Salman sebagai putra mahkota dan  perjalanan karirnya untuk menjadi raja Saudi.

    Sepertinya, Trump bermaksud menghadang gelombang protes internasional atas aksi-aksi brutal Saudi dan petualangan perang Bin Salman di kawasan, sendirian. Strategi ini bahkan membangkitkan kemarahan teman-teman separtai Trump di Kongres.

    Ketua Komite Hubungan Luar Negeri Senat Amerika, Bob Corker memprotes pernyataan Donald Trump yang mendukung Saudi. Di laman Twitternya Corker menulis, saya sama sekali tidak pernah mengira suatu hari akan menyaksikan Gedung Putih berubah menjadi "kantor humas" Putra Mahkota Saudi.

    Senator lain dari Partai Republik, Rand Paul dengan nada yang sama mengatakan, saya yakin sepenuhnya pernyataan ini adalah "Saudi First" bukan "America First".

    Kebijakan "Saudi First" yang diterapkan Trump di kawasan Asia Barat telah melahirkan krisis dan berbagai permasalahan besar. Bin Salman dengan dukungan tanpa syarat Gedung Putih, menciptakan tragedi kemanusiaan terbesar dunia di Yaman.

    Catatan kejahatan keji Bin Salman begitu panjang termasuk memboikot Qatar, menculik perdana menteri Lebanon dan memaksanya mengundurkan diri, dan yang terbaru memutilasi seorang wartawan pengkritik pemerintah Riyadh di dalam kantor konsulat Saudi di Istanbul Turki.

    Rangkaian peristiwa-peristiwa itu tak mampu mencegah keluarnya pernyataan kontroversial Donald Trump pada hari Selasa (20/11). Dari sini menduga dengan lampu hijau Presiden Amerika terhadap Saudi, kejahatan-kejahatan yang lebih mengerikan oleh pejabat Riyadh mungkin dilakukan di masa depan.

    Strategi semacam ini dalam bentuknya yang paling memungkinkan, semakin menunjukkan langkah pemerintah Amerika dalam mengorbankan nilai-nilai moral dan kemanusiaan untuk mengeruk semakin banyak dolar-dolar minyak Arab Saudi.

    (hs/inf)