Klaim Malaysia di Wilayah Laut Cina Selatan - Trias Politika
  • Breaking News

    Klaim Malaysia di Wilayah Laut Cina Selatan

    Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad



    INFILTRASI - Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad mengatakan, Malaysia telah menegaskan kembali pendiriannya bahwa Laut Cina Selatan harus tetap dapat diakses oleh semua kapal meskipun ada klaim Beijing atas wilayah yang disengketakan.

    Mahathir selama wawancara dengan majalah Mekong Review, mengatakan bahwa lebih penting bagi kapal-kapal untuk melintasi Laut Cina Selatan secara bebas daripada Cina membuat klaim pada jalur laut utama.

    “Cina mengklaim Laut Cina Selatan berdasarkan namanya. Tetapi pada saat ini, kapal dapat melewati Selat Malaka dan Laut Cina Selatan," ujarnya.

    Mahathir lebih lanjut menuturkan, laut adalah jalur utama komunikasi utama dan di sini, Malaysia mengambil sikap yang sedikit berbeda dalam perselisihan karena akan menggunakan cara diplomatik untuk bernegosiasi dengan Cina.

    Wilayah Laut Cina Selatan yang kaya energi itu hampir 90 persen diklaim oleh Cina berdasarkan peta kuno yang mereka miliki. Namun, Malaysia, Brunei, Filipina, Vietnam, dan Taiwan juga memiliki klaim yang tumpang tindih. Sengketa utama mereka terkait dengan kepemilikan pulau yang kaya minyak dan gas, Spratly dan Paracel.

    Meski berselisih, negara-negara pesisir Laut Cina Selatan memanfaatkan jalur maritim itu secara damai untuk tujuan pelayaran selama bertahun-tahun. Namun, campur tangan Amerika Serikat telah memperkeruh situasi, terutama setelah Presiden Donald Trump berkuasa. Padahal, Beijing sudah beberapa kali menyatakan kesiapannya untuk menyelesaikan konflik di kawasan tanpa melibatkan AS.

    Menurut Alexander Gabuev, seorang pakar masalah internasional, aturan baru pemerintah Beijing tentang pelayaran di Laut Cina Selatan akan memblokir navigasi armada AS, tetapi itu juga akan menyulitkan kapal Malaysia, Vietnam, dan Filipina. Jadi, permainan kekuatan besar akan merugikan negara-negara kecil.

    PM Malaysia khawatir bahwa apa yang terjadi di Laut Cina Selatan pada akhirnya akan berdampak pada semua negara regional dan menganggu jalur perdagangan. Mahathir berharap kepentingan internasional akan perlunya kebebasan navigasi bisa membantu mengubah pendekatan Cina.

    Laut Selatan Cina adalah sebuah kawasan dengan nilai perdagangan tahunan mencapai 3 triliun dolar per tahun, karena itu penting bagi perdagangan Asia Tenggara dan dunia.

    Selain Malaysia, negara-negara Asia Tenggara memandang Laut Cina Selatan sangat penting untuk menggerakkan perdagangan di kawasan dan dunia.

    (rm/inf)