25 Persen Populasi Rakyat Miskin, Pakistan Tak Mampu Lockdown Kota-Kota untuk Cegah Corona - Trias Politika
  • Breaking News

    25 Persen Populasi Rakyat Miskin, Pakistan Tak Mampu Lockdown Kota-Kota untuk Cegah Corona

    Perdana Menteri Pakistan Imran Khan



    ISLAMABAD - Pakistan tidak mampu menerapkan lockdown atau pembatasan besar-besaran di beberapa kota seperti yang dilakukan negara Barat demi menekan penyebaran virus korona. Hal itu diungkap Perdana Menteri Pakistan Imran Khan, Selasa (18/3/2020).

    Amerika Serikat (AS) dan banyak negara lain telah mengamanatkan atau merekomendasikan penutupan restoran dan bisnis lain sebagai cara menghentikan orang dari tertular virus.

    Di Pakistan, rumah bagi kota-kota besar seperti Karachi, menurut Khan langkah itu dipertimbangkan sejak awal. Namun para pejabat khawatir hal itu akan menghancurkan ekonomi negara itu yang sudah rapuh.

    "Situasi Pakistan tidak sama dengan AS atau Eropa, 25 persen dari populasi kita hidup dalam kemiskinan yang serius," kata Khan, dalam pidato yang disiarkan televisi, seperti dilaporkan AFP, Rabu (18/3/2020).

    "Jika kita mematikan kota-kota -orang-orang sudah menghadapi keadaan sulit- kita akan menyelamatkan mereka dari korona di satu sisi, tetapi mereka akan mati kelaparan di sisi lain."

    Namun Khan mencatat, Pakistan sudah menutup stadion kriket, sekolah, perguruan tinggi dan universitas.

    Selain itu, Pakistan memgalami defisit fiskal yang besar dan membutuhkan beberapa pinjaman dari Dana Moneter Internasional (IMF).

    Khan mengatakan, ekonomi Pakistan naik tahun lalu, tetapi kini menghadapi tekanan akibat krisis viurs korona dan menyarankan IMF memberi bantuan pada negara itu.

    "Kami akan berbicara kepada IMF karena kami harus memberikan bantuan kepada industri dan eksportir kami," katanya.

    Pemain kriket yang berubah menjadi politisi itu juga memperingatkan tindakan yang sangat keras akan diambil terhadap para penimbun makanan.

    Hingga Selasa, otoritas kesehatan Pakistan hanya menguji 1.571 kasus yang dicurigai, dengan lebih dari 200 di antaranya positif.

    Sejauh ini belum ada kematian, tetapi pengamat khawatir jumlah kasus sebenarnya lebih tinggi dari yang muncul oleh statistik.