Komisi X DPR RI Sebut Daya Beli Masyarakat Turun Akibat Covid-19 - Trias Politika
  • Breaking News

    Komisi X DPR RI Sebut Daya Beli Masyarakat Turun Akibat Covid-19

    Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi Partai Demokrat, Bramantyo Suwondo



    JAKARTA - Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi Partai Demokrat, Bramantyo Suwondo menilai pandemi virus corona baru (COVID-19)  menyebabkan penurunan daya beli masyarakat dan tingkat konsumsi rumah tangga. Padahal, ekonomi Indonesia sangat bergantung dengan konsumsi masyarakat.

    Dilansir dari Badan Pusat Statistik (BPS), konsumsi rumah tangga menyumbang hingga 56,62 persen terhadap ekonomi Indonesia sepanjang 2019.

    "Supaya penyebaran COVID-19 dapat segera diredam, pemerintah dapat memberikan bantuan langsung berupa stok sembako untuk memastikan bahwa kebutuhan masyarakat terpenuhi selama masa karantina wilayah," kata Bramantyo di Jakarta, Jumat (20/3/2020).

    Langkah ini, menurut Bramantyo, penting dilaksanakan untuk meminimalisir interaksi dan menjamin kesehatan masyarakat secara nasional. Untuk itu, Indonesia harus bergerak cepat dalam mengatasi krisis ini agar dampak ekonomi dan sosial tidak semakin memburuk.

    Di sisi lain, Bramantyo Suwondo  menyarankan pemerintah agar menerapkan karantina wilayah untuk daerah dengan kasus COVID-19 tinggi, supaya angka penularan COVID-19 bisa lebih landai. Dengan begitu, rumah sakit rujukan dapat memberikan penanganan yang lebih optimal.

    "Saat ini, untuk menangani COVID-19, pemerintah menyediakan 132 rumah sakit rujukan di seluruh Indonesia. Tetapi, beberapa wilayah hanya bisa mengandalkan satu rumah sakit untuk satu provinsi saja, contohnya seperti Provinsi Gorontalo, Sulawesi Barat dan Maluku Utara," paparnya.

    Selain itu, ia melihat masyarakat juga melaporkan sulitnya mendapatkan layanan tes COVID-19 di unit kesehatan. Padahal, pemeriksaan massal secara gratis terbukti ampuh menekan laju penyebaran COVID-19 di Korea Selatan. 

    Bramantyo mengkhawatirkan, minimnya jumlah RS rujukan akan berdampak pada kesulitas akses bagi masyarakat untuk mendapat pemeriksaan. Sementara, beban kerja dokter dan tenaga medis di RS rujukan juga terus meningkat.

    "Perlu adanya kebijakan yang strategis untuk memastikan ketersediaan rumah sakit rujukan dengan layanan optimal kepada masyarakat, dengan jumlah tenaga medis dan peralatan yang juga memadai. Kesehatan para dokter dan tenaga medis yang menjadi garda terdepan juga tetap harus diutamakan," pungkasnya.