Tak Terima Disebut Lonte Oleh Guru Agama, Siswi SMK di Riau Terancam Putus Sekolah - Trias Politika
  • Breaking News

    Tak Terima Disebut Lonte Oleh Guru Agama, Siswi SMK di Riau Terancam Putus Sekolah

    ilustrasi



    KEPRI - Siswi SMK di Kepri pilih berhenti sekolah karena tak terima disebut lonte oleh guru agamanya sendiri. Kok gitu sih? Siswi SMK di Kabupaten Anambas, Kepulauan Riau (Kepri) berinisial AR memutuskan berhenti sekolah gara-gara disebut lonte oleh guru agamanya sendiri.

    Sebutan lonte sendiri merupakan istilah bagi perempuan-perempuan nakal yang kerap bersinggungan dengan hubungan seksual. Masalah ini lantas mendapatkan banyak sorotan tajam terutama dari lembaga perlindungan anak. Berikut laporannya!

    1. Siswi SMK disebut lonte oleh guru agama
    Dilansir dari Kompas.com, Minggu (19/1), kasus yang menimpa AR pertama kali mendapatkan perhatian publik usai diungkap oleh Ketua Komisi Pengawasan dan Perlindungan ANak Daerah (KPPAD) Kepri Erry Syahrial.

    Dia mengungkapkan jika AR harus putus sekolah usai mendapatkan bullyan dari teman-temannya setelah disebut lonte oleh guru agamanya sendiri.

    “Tidak seharusnya seorang pengajar berlaku seperti itu, apalagi terhadap anak muridnya sendiri,”

    Erry juga mengungkapkan jika AR merasa malu akibat label yang diberikan oleh gurunya. Hal itu juga membuat teman-teman sekolahnya menjadi kerap mengejek siswi tersebut.

    Tindakan guru agama yang menyebut AR sebagai lonte juga bukanlah cerminan seorang guru yang seharusnya menjadi contoh bagi murid-muridnya.

    Ucapan kasar dan menjurus pada labeling siswa seharusnya sudah tidak lagi digunakan dalam dunia pembelajaran di Indonesia.

    “Itu bukan cerminan seorang guru, seharusnya guru itu merupakan contoh, bukan malah berlaku kurang ajar kepada peserta didiknya. Gurukan tugasnya mendidik, kalau ada salah di murid sudah seharusnya dididik,” tegas Erry.

    2. KPPAD laporkan kasus ini ke Dinas Pendidikan

    Erry sendiri memastikan akan segera melaporkan temuan kasus ini ke Dinas Pendidikan terkait agar hak AR bisa dikembalikan.

    “Insya Allah, Senin (20/1/2020) saya beserta komisioner lainnya akan menyurati Disdik (Dinas Pendidikan) untuk memperjuangkan hak anak tersebut,”

    KPPAD juga menyebutkan kondisi mental AR sempat terganggu pasca kejadian tersebut. Kini, siswi SMK itu diketahui memilih pulang ke Batam ke rumah kakeknya.

    Erry berharap kasus AR bisa menjadi contoh bagi guru lain agar lebih bijaksana dalam memberikan pembelajaran bagi para muridnya.

    "Setidaknya kasus ini bisa menjadi contoh untuk guru-guru lain agar agar tidak memperlakukan anak didiknya (secara buruk) di depan umum," ujarnya.

    Kasus guru agama menyebut siswi SMK di Kepri sebagai lonte berbuntut panjang. Siswi SMK bernama AR akhirnya memilih untuk berhenti sekolah karena tak terima.

    Lembaga KPPAD Kepri langsung turun tangan setelah mengetahui ada kasus ini. Mereka merasa jika tindakan guru agama tersebut sudah kelewatan dan melanggar hak seorang anak.

    Semoga kasus ini juga menjadi perhatian semua pihak, baik pemerintah dan masyarakat agar tidak mudah memberikan label pada siswa dan menggunakan istilah-istilah kasar di lingkungan pendidikan.