Membelot dari Korut 4 Tahun Lalu, Mantan Diplomat Ini Menangkan Kursi Parlemen di Korsel - Trias Politika
  • Breaking News

    Membelot dari Korut 4 Tahun Lalu, Mantan Diplomat Ini Menangkan Kursi Parlemen di Korsel

    Thae Yong Ho



    SEOUL - Mantan diplomat Korea Utara (Korut) telah memenangkan kursi parlemen di distrik paling megah di Korea Selatan (Korsel), Gangnam. Empa tahun lalu, dia melarikan diri dari Kedutaan Korea Utara di London dan membelot ke Korea Selatan.

    Thae Yong Ho, mantan wakil duta besar Korea Utara untuk Inggris dan kandidat anggota parlemen dari partai oposisi utama; United Future Party (UFP), bereaksi setelah terpilih dalam pemilu parlemen di kantor kampanyenya di Seoul, Kamis (16/4/2020).

    Sebelum berkhianat, Thae Yong Ho adalah diplomat yang mengelola dana rahasia untuk pemimpin Korea Utara Kim Jong-un. Dia melarikan diri ke Korea Selatan yang kaya dan demokratis pada tahun 2016.

    Thae, 55, memenangkan satu dari tiga daerah pemilihan di distrik Gangnam yang terkenal megah di Seoul dalam pemilu parlemen yang digelar Rabu. Dia mengalahkan seorang mantan anggota parlemen partai berkuasa empat periode dengan selisih hampir 620% suara.

    "Saya sangat takut jika penduduk Gangnam akan mengambil seorang pria dari (Korea) Utara," kata Thae yang tersenyum dalam pidato kemenangan yang dibagikan di saluran YouTube-nya, seperti dikutip Reuters.

    Dalam video itu, dia berada di antara kerumunan pemilih di kantor kampanyenya yang meneriakkan namanya sambil bersorak.

    "Tetapi begitu banyak orang di sini memberi saya kekuatan, mereka memegang tangan saya, menyambut saya ke Gangnam dan berjanji untuk memilih saya," katanya dengan suara serak setelah kampanye selama berminggu-minggu.

    Gangnam, sebuah distrik yang kaya dan konservatif yang terkenal akan butik-butiknya, bar-bar mewah dan rumah-rumah mewah, menjadi terkenal di dunia internasional melalui lagu hit tahun 2012 berjudul "Gangnam Style" yang dipopulerkan musisi K-pop; Psy.

    Thae, yang telah bekerja di Korea Selatan sebagai ahli kebijakan luar negeri sebelum meluncurkan tawaran untuk menjadi anggota parlemen pada bulan Februari, adalah pengungsi Korea Utara pertama yang menjadi anggota parlemen yang mewakili daerah pemilihan di Korea Selatan.

    Cho Myung-chul, mantan profesor Korea Utara, bertugas di parlemen 2012-2016 atas dukungan partai tetapi tanpa pemilu.

    Pemilu tersebut menarik tingkat partisipasi yang belum pernah terjadi sebelumnya dari para pembelot Korea Utara, menantang apa yang mereka lihat sebagai kebijakan lintas-batas Presiden Moon Jae-in yang cacat.

    Kelompok-kelompok pembelot mengeluh bahwa pemerintahan Moon memangkas dana, mengabaikan hak asasi manusia dan menekan aktivisme anti-Pyongyang demi mengejar rekonsiliasi dengan rezim Kim Jong-un.

    Ji Seong-ho, seorang pembelot yang diundang ke Washington pada tahun 2018 untuk menghadiri pidato kenegaraan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, juga terpilih jadi anggota parlemen sebagai perwakilan proporsional.

    Tetapi perebutan politik Thae jauh dari mudah. Dia menghadapi serangan balasan dari beberapa warga dan bahkan kepala kampanye partainya, Kim Chong-in, yang mengatakan Thae tidak cocok untuk mewakili distrik karena ia tidak memiliki "akar" di Korea Selatan.

    Kim Chong-un kemudian meminta maaf dan mendukung Thae. "Kemenangannya yang telak berarti orang-orang di Gangnam tidak benar-benar peduli bahwa dia seorang pembelot. Mereka tampaknya percaya bahwa dia lebih loyal kepada (Korea) Selatan, bukan (Korea) Utara," kata Lim Seong-ho, seorang profesor ilmu politik di Universitas Kyung Hee di Seoul.

    Para kritikus juga mengajukan pertanyaan tentang kekayaan Thae ketika ia mendaftarkan aset lebih dari 1,8 miliar won (USD1,5 juta).

    Thae mengatakan dia menghasilkan uang dengan memberi kuliah dan menulis buku dan paper, dan membayar lebih dari 100 juta won (USD81.000) dalam bentuk pajak setiap tahun.

    Dua memoarnya adalah hit besar. Yang pertama, di mana ia menggambarkan bagaimana Pyongyang secara diam-diam mengumpulkan mata uang asing melalui misi diplomatik serta duplikat komitmen denuklirisasi. Memoarnya terjual lebih dari 200.000 copy di Korea Selatan dan diterbitkan dalam beberapa bahasa.

    Media pemerintah Korea Utara telah mengkritik pembelotan Thae dengan menyebutnya “sampah manusia” dan penjahat yang telah menggelapkan dana negara dan melakukan pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur.

    Thae dengan tegas membantah klaim itu dan berjanji untuk melanjutkan kegiatan politiknya bahkan setelah polisi meningkatkan keamanan terhadapnya.

    "Saya telah mempertaruhkan hidup saya untuk datang ke Republik Korea mencari demokrasi dan nilai-nilai bebas dalam ekonomi pasar," kata Thae.

    "Saya akan menyelesaikan masalah regional dengan prinsip-prinsip pasar...sambil mendorong kebijakan Korea Utara yang lebih mencerminkan kenyataan di sana dan menyamai kebanggaan warga Korea Selatan."

    No comments