Dianggap Muliakan Kekerasan, Twitter Tolak Tweet Trump - Trias Politika
  • Breaking News

    Dianggap Muliakan Kekerasan, Twitter Tolak Tweet Trump

    Dianggap Muliakan Kekerasan, Twitter Tolak Tweet Trump



    WASHINGTON - Twitter menyembunyikan tweet dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Jumat (29/5) dan menuduh dia melanggar aturan dengan “memuliakan kekerasan”.

    Tweet yang mendapat peringatan itu adalah saat Trump memperingatkan para penjarah dalam protes di Minneapolis akan ditembak.

    Keputusan Twitter untuk memberi peringatan itu muncul saat kerusuhan terjadi di berbagai kota di penjuru AS. Tindakan Twitter pun meningkatkan perselisihan antara Trump dan berbagai perusahaan teknologi.

    Tindakan Twitter ini muncul beberapa jam setelah Trump menandatangani perintah eksekutif yang mengancam perusahaan-perusahaan media sosial di Silicon Valley dengan regulasi baru tentang kebebasan berbicara.

    “PARA PENJAHAT itu tidak menghormati memori George Floyd, dan saya tidak akan membiarkan itu terjadi. Baru bicara dengan Gubernur Tim Walz dan meminta dia bahwa Militer bersamanya dengan segala cara. Setiap kesulitan dan kami akan mengontrolnya tapi, saat penjarahan terjadi, penembakan dimulai. Terima kasih!” tweet Trump.

    Pesan Trump itu saat ini hanya bisa dibaca setelah mengklik pemberitahuan yang menyatakan “Tweet ini melanggar Aturan Twitter tentang memuliakan kekerasan. Meski demikian, Twitter menganggap itu mungkin menjadi kepentingan publik untuk Tweet ini tetap dapat diakses.”

    Trump menulis tweet setelah beberapa hari kerusuhan di Minneapolis, saat unjuk rasa mengakibatkan pembakaran, penjarahan dan vandalisme.

    Pengunjuk rasa marah atas kematian Floyd, pria kulit hitam yang tampak di video sedang kesulitan bernafas saat polisi kulit putih menekankan lututnya ke leher Floyd.

    Empat personil polisi yang terlibat dalam kematian Floyd telah dipecat dan FBI menyelidiki kejadian itu.

    Insiden itu hanya satu dari beberapa pembunuhan terhadap warga kulit hitam di AS dalam beberapa bulan terakhir yang memicu kemarahan publik.

    No comments