Pemred Beritasatu: Siap Memasuki New Normal - Trias Politika
  • Breaking News

    Pemred Beritasatu: Siap Memasuki New Normal

    Direktur Pemberitaan Beritasatu Media Holdings Primus Dorimulu di acara TFI 2019 Majalah Investor di Balai Kartini, Kamis (12/12/2019). Foto: Majalah Investor/UTHAN A RACHIM



    Banyak yang tak paham new normal atau normal baru. Padahal, sesungguhnya kehidupan ini adalah pergerakan dari normal ke normal baru. Hidup ini adalah proses evolusi. Hijrah dari budaya lama ke budaya baru adalah pergerakan dari normal ke new normal.

    Normal baru lama-lama menjadi normal dan kemudian kita bergerak ke normal baru lagi, dan seterusnya. Tak pernah berhenti.

     Ayah saya pada zamannya tunggang kuda dari Watuapi ke Mataloko saat sekolah di Standard School. Pada zaman saya, perjalanan Watuapi ke Mataloko hanya separuh jalan naik kuda. Dari Ndora ke Mataloko, kami naik truk Seminar sambil menyanyi. Sekarang, Watuapi-Mataloko, anak Seminari naik mobil. Kalau ada yang naik kuda ke sekolah,  orang bilang "ata bingu" .

    Jadi, selalu ada normal baru sebagai ikhtiar manusia untuk hidup sesuai tuntutan  kebutuhan tertentu (penyakit, bencana alam, dsb),  penggunaan teknologi baru, dan gaya hidup baru akibat perkembagan budaya. 

    Nah, bagaimana new normal era Cofid-19?

    Pertama, mari kita pahami apa arti istilah R0 dan Rt yang sering digunakan.

    WHO menggunakan  reproduction number (R0), dan effective reproduction number (Re/Rt). 

    R0 adalah angka dasar saat pertama  Covid merebak. Sedang Rt adalah angka penyebaran riil Covid. Berapa tingkat penurunan Covid di Indonesia sehari terakhir, itu diukur dengan Rt.

    Ketika Covid merebak awal Maret dan kasus positif per hari melonjak eksponensial, angka R0 mencapai di atas 5. WHO meminta untuk menekan R0  di bawah 5 dan sebuah negara dinilai sukses mengendalikan Covid bila R0 di bawah satu.

    Penularan Covid yang sangat cepat itu disebut perkembangan yang eksponensial. Lonjakannya mengikuti deret ukur, bukan deret hitung. Satu menulari lima orang, lima menulari 25 orang lain, dan seterusnya.

    Kemudian, semua negara melakukan intervensi untuk menekan penularan. Kalimat  yang acap dipakai adalah "memutus mata rantai penularan". Masyarakat juga berpartisipasi memutus rantai penularan. Di Indonesia, ada wilayah yang menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), ada yang tidak, tapi semuanya menjalankan protokol kesehatan dengan ketat.

    Nah, hasilnya itu diukur dengan Rt. Korsel sudah sukses menurunkan penyebaran Covid dengan Rt di bawah satu. Rt satu artinya satu orang menulari satu orang akibat pergerakan yang sangat terbatas akibat penerapan protokol kesehatan.

    Yang sukses adalah Rt di bawah satu seperti Korsel itu. DKI sempat mencapai Rt di bawah satu, tapi kemudian naik lagi di atas satu.

    Apakah bisa Rt nol? 
    Jawaban, jelas tidak bisa! Selama vaksin tidak ditemukan, selama itu pula Rt tak pernah mencapai nol atau zero penularan.

    Dalam infografis penyebaran Covid, kita bisa melihat dua  hal. Pertama, sebelum Covid, garis grafik berhimpitan dengan sembuh X (garis datar). Kedua, ketika Covid merebak, grafik menanjak.  Dengan intervensi, kurva mulai melandai. Grafik bergerak datar. Kurva menurun jika interevensi sukses dan Rt di bawah satu.
    Tapi, garis grafik tidak akan pernah bisa kembali berhimpit dengan sumbu X.

    Inilah yang disebut new normal. Karena garis grafik tidak akan kembali seperti era sebelum Covid. Tetap ada jarak dengan sumbu X yang menunjukkan potensi penularan Covid tetap ada karena  virus belum ditemukan.

    Kedua, new normal.

    Manusia di berbagai negara kini memasuki new normal. Dunia pasca-Covid-19 tidak akan mungkin kembali seperti situasi sebelum Covid menghantam Wuhan, Desember 2019. 

    Karena virus Covid tetap ada, potensi penularannya pun tetap besar. Jika tidak menerapkan protokol kesehatan, Rt yang sudah di bawah satu bisa kembali ke 2,3,4, dan seterusnya. Covid bisa merebak lagi.

    Hidup new normal artinya orang kembali beraktivitas dengan menerapkan secara ketat protokol kesehatan. Orang harus beraktivitas agar tidak mati karena kelaparan. Dunia usaha harus kembali aktif agar ekonomi yang sudah ambruk tidak luluh-lantak.

    Tidak salah jika Presiden Jokowi mengatakan, "Mari hidup berdamai dengan Covid." Itu bukan berarti kita mengajak damai dengan Covid yang pasti tidak akan mau berdamai.  Covid adalah virus, bukan manusia yang punya akal budi.

    Hidup berdamai dengan Covid artinya kembali beraktivitas dengan menerapkan protokol kesehatan secara murni dan konsisten di setiap lini kehidupan. Kembali beraktivitas di era new normal. 

    Memakai masker, cuci tangan dengan sabun di air mengalir setiap selesai beraktivitas, menggunakan hand sanitizer di saat tidak ada air, tidak memegang mulut, hidup, dan mata, selalu menjaga jarak adalah normal baru.  Lama-lama normal baru ini akan terasa normal.

    Kita mendukung keputusan pemerintah untuk melonggarkan sebagian wilayah yang sudah mencapai Rt di bawah satu. Tapi, arahan WHO berikut harus menjadi pedoman.

    WHO mengingatkan, setiap negara yang hendak melakukan transisi, pelonggaran pembatasan, dan skenario new normal harus memperhatikan hal-hal berikut.

    Pertama, bukti yang menunjukkan bahwa transmisi Covid- 19 dapat dikendalikan. Artinya, ada konsistensi pengendalian: Rt di bawah satu lebih dari dua pekan.

    Kedua, kapasitas sistem ksehatan dan kesehatan masyarakat termasuk rumah sakit tersedia untuk mengidentifikasi, mengisolasi, menguji, melacak kontak, dan mengkarantina.

    Ketiga, risiko virus corona diminimalkan dalam pengaturan kerentanan tinggi , terutama di panti jompo, fasilitas kesehatan mental, dan orang-orang yang tinggal di tempat-tempat ramai.

    Keempat, langkah-langkah pencegahan di tempat kerja ditetapkan dengan jarak fisik, fasilitas mencuci tangan, dan kebersihan pernapasan.

    Kelima, risiko kasus impor dapat dikelola.

    Keenam, masyarakat memiliki suara dan dilibatkan dalam kehidupan new normal.

    Selamat memasuki new normal.

    No comments